Iklan

 
Saturday, November 29, 2014

Yakinkan Ujian Nasional 2015 Tetap Digelar

0 comments

Banyak pihak yang ragu mengenai gelaran Ujian Nasional 2015. Keraguan mereka didasari dengan masih berlangsungnya kegiatan mengevaluasi ujian tahunan tersebut, yang tampaknya belum tuntas. Sehingga pihak Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pun belum mengumumkan status UN 2015.

Sejauh ini, Pendidikan dan Kebudayaan Anies mengabarkan, pada tahap awal proses evaluasi Ujian Nasional, ia telah berkonsultasi dengan pihak Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) selaku penyelenggara, terkait status dan tujuan digelarnya Ujian Nasional pada masa akhir pembelajaran kurikulum setiap jenjang pendidikan sekolah menengah.

Alhasil, banyak aspek yang ingin dilihat pak Menteri lebih dalam. Namun, diantaranya yang paling mendesak yakni apakah Ujian Nasional (UN) masih akan dipakai sebagai penentu kelulusan siswa atau tidak. Menteri berpandangan bahwa kalau dari proporsi kelulusan, Ujian Nasional sudah bukan lagi menjadi penentu kelulusan.

Dalam pertemuan pertama dengan BSNP itu, penggagas Indonesia Mengajar belum menghasilkan yang keputusan penting. Intinya, Menteri Anies menyampaikan kalau dari pertemuan perdana yang berlangsung Kamis lalu 20 November itu, ia menugaskan BSNP sebagai lembaga independen yang tugasnya membantu Menteri, untuk mengevaluasi penyelenggaraan Ujian Nasional secara menyeluruh dan soal penghapusannya, dia cuma menjawab secara diplomatis. Menurutnya sangat mungkin (tahun depan) tidak ada UN, seperti dijelaskan kepada beberapa media.

Namun, Mendikbud mengamati, selama beberapa tahun terakhir, kelulusan UN dianggap sudah hampir sempurna. Persentase kelulusan UN sudah mendekati angka 100 persen. Contohnya penyelenggaraan UN pada 2013/2014 April lalu. Hasil pengolahan akhir, dinyatakan 1.624.946 siswa SMA (99,52 persen) dinyatakan lulus dan 7.811 (0,48 persen) tidak lulus. Sedangkan untuk kelompok SMK ada 1.170.748 siswa (99,90 persen) lulus dan ada 1.159 (0,1 persen) yang nggak lulus.

Dengan begitu, penyelenggaraan Ujian Nasional membuat para siswa belajar hanya untuk mengerjakan soal ujian. Soal pemahaman keilmuan, belum tentu diutamakan. Alhasil, anak-anak terbiasa dengan penguasaan materi pelajaran pada fase yang disebut low order thinking (berpikir level rendah). Padahal yang kami harapkan, para siswa itu sudah masuk fase high order thinking (berpikir lebih tinggi).



Penyelenggaraan UN Tetap Ada

Meski begitu, Mendikbud asala Jawa Barat tersebut menjelaskan, dalam undang-undang dasar (UUD) 1945 sudah digariskan bahwa masalah yang krusial adalah urusan pemetaan pendidikan di seluruh Indonesia yang mengharuskan Unas tetap digelar demi kontrol kualitas pendidikan kita.

Dengan landasan itu, Ujian Nasional bukan cuma diposisikan sebagai pendukung kepentingan siswa dalam belajar, tetapi lebih tepat lagi adalah untuk mendukung pemerataan kualitas pendidikan secara nasional.
Ia menegaskan, pendidikan jangan dijadikan penderitaan. Pendidikan harus menjadi sesuatu yang membahagiakan.


Terkait hasil UN (Ujian Nasional) seperti disinggung Menteri memang semakin membaik. Sebagai contoh untuk tingkat SMP/Mts sederajat, dari data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, kelulusan UN SMP tahun pelajaran 2013/2014 mencapai 99,94 persen. Kelulusan tahun 2014 meningkat 0,38 persen dibanding tahun 2013 untuk jenjang yang sama, yakni 99,56 persen.

Walaupun tingkat kesulitan di soal UN tahun pelajaran 2013/2014 dinaikkan hingga 20 persen, anak-anak tetap bagus nilainya. Selain itu, di UN tahun ini juga memuat soal Program for International Student Assesment (PISA), sebuah riset yang dilakukan oleh Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD).

Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan bidang Pendidikan (Wamendik), Musliar Kasim pernah memaparkan, bahwa dengan hasil (UN SMP) seperti ini, menepis anggapan bahwa dengan meningkatnya jumlah soal sulit akan menurunkan tingkat kelulusan.

Kriteria kelulusan untuk jenjang SMP/sederajat ditentukan oleh perolehan nilai akhir (NA), dimana NA sama dengan 60 persen nilai UN ditambah dengan 40 persen nilai sekolah (NS). Selain itu, rata-rata NA paling rendah 5,5, dan nilai tiap mata pelajaran paling rendah 4,0.

Wamendik juga menyampaikan, perbandingan rata-rata nilai UN murni tahun ini lebih tinggi dari tahun lalu. Jika tahun lalu 6,12 maka tahun ini adalah 6,52. Sedangkan untuk US, rata-rata nilai adalah 8,17, yang selain lebih besar dari nilai UN juga lebih besar dari rata-rata nilai akhir, 7,19.


Sementera tingkat kelulusan Ujian Nasional (UN) di jenjang SMA/MA tahun 2014 mencapai 99,52 persen. Dari total peserta UN SMA/MA yang berjumlah 1.632.757 siswa, sebanyak 7.811 (0,48 persen) dinyatakan tidak lulus UN. Demikian dijelaskan Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Mohammad Nuh ketika menggelar jumpa pers mengenai hasil UN SMA/SMK tahun pelajaran 2014 di Gedung Ki Hajar Dewantara Kemdikbud, Jakarta, 19 Mei 2014.

Prof. DR. Muhammad Nuh, DEA menjelaskan tingkat kelulusan untuk jenjang SMK/MAK, yaitu sebesar 99,90 persen. Dari 1.171.907 peserta UN SMK/MAK, ada 1.159 siswa yang tidak lulus. Kelulusan peserta didik SMA/MA dan SMK/MAK ditetapkan berdasarkan perolehan nilai akhir (NA). Nilai akhir merupakan gabungan dari 60 persen nilai UN dan 40 persen nilai ujian sekolah/madrasah.

Peserta didik SMA/SMK/MA/MAK dinyatakan lulus UN apabila nilai rata-rata NA paling rendah 5,5 dan nilai mata pelajaran paling rendah 4,0. Dari keseluruhan nilai nasional, terdapat 16.497 sekolah (89,40 persen) dengan tingkat kelulusan 100 persen. Sementara itu tidak ada sekolah dengan tingkat kelulusan 0 persen.


Ujian Nasional (UN) secara umum tidak membuat siswa susah, tidak membuat siswa merasa sangat terbebani. Contohnya Ujian Nasional (UN) 2014 SMP memberi kesan tersendiri bagi Muhammad Yusri Muad dan Neni Septiani Putri. Keduanya merupakan siswa Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) Model Praya, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Jika biasanya menghadapi ujian adalah hal yang menakutkan bagi sebagian siswa, namun hal itu tidak berlaku bagi Muad dan Putri. Menurut mereka, Ujian Nasional yang diikuti tidak masalah, apa yang perlu di takutkan semuanya sudah dipelajari.

Perasaan percaya diri dalam menghadapi UN yang ditunjukkan Muad dan Putri ini karena sebelum pelaksanaan UN, mereka telah melakukan berbagai persiapan untuk menghadapi UN. Berbagai buku latihan soal UN sudah dikerjakan dengan baik. Dan jika menemui kesulitan, mereka tak segan bertanya pada guru pembimbingnya untuk mendapatkan jawaban yang pasti.

Demikian pula urgensi Ujian Nasional (UN) sebenarnya tidak perlu dipermasalahkan. Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Mohammad Nuh pernah menjelaskan, bahwa ujian nasional (UN) membuat persebaran nilai menjadi lebih lebar, sehingga dapat terlihat lebih nyata kemampuan siswa terhadap pelajaran yang diterima selama sekolah. Hal ini berbeda dengan ujian sekolah (US) yang memiliki deviasi kecil, di mana sebaran nilai mengumpul lebih sempit. Ini menunjukkan bahwa nilai rata-rata siswa relatif tinggi, sehingga tidak terlihat mana siswa yang bagus maupun yang tidak.

Jika misalnya ada peserta Ujian Nasional (UN) yang memperoleh nilai kurang bagus atau jelek, itu adalah wajar. Apabila ada peserta Ujian Nasional (UN) yang tidak lulus itu juga sangat wajar. Karena para peserta Ujian Nasional (UN) tidak semuanya belajar dengan optimal. Sebab para peserta Ujian Nasional (UN) tidak semuanya memenuhi persyaratan sebagai siswa yang harus diluluskan oleh satuan pendidikan. Jika misalnya ada siswa yang pintar namun punya kenakalan yang tida bisa ditolelir, maka ia mungkin tidak dipaksakan harus lulus. Karena sekolah bukan sekedar tempat memberikan Ijazah kelulusan, sekolah adalah tempat belajar dan tempat untuk mencetak siswa yang terpelajar dan berkepribadian luhur, sesuai dengan aturan Agama dan Negara.


Semoga informasi tentang Ujian Nasional (UN) 2015 ini bermanfaat, Amin Ya Rabbal Alamin!



Para Penulis :
- Drs. Asep R. Dewanto, S.H.
- Ir. Asep Dedi Suharto

(Para pengamat pendidikan dari Ciamis yang berbatasan dengan Kuningan, Lembur Sdr. Anies Baswedan, P.HD. / Mendikbud RI)


Sumber:
- Kemdikbud
- Pewarta Ekonomi dan Bisnis

Related Articles:

Leave a Reply

Arsip Website

 
Pengumuman UN © 2011 - 2016 Design by World Sharings. Supported by Info Online

Thanks for All friends